Error 404: Human Not Found

Menemukan Jati Diri di Tengah Algoritma dan Hati

Penulis: Astrid Hendrawati & Tuhu Nugraha
Penyunting: Fitria Pratiwi
Ilustrator sampul dan isi: Kiki Raihan
Desainer sampul dan penata letak: Gita Eka
Ketebalan buku: 160 halaman dua warna
Ukuran buku: 13 x 20 cm
Harga buku: Rp68.000
Cetakan pertama: Oktober 2025
ISBN: Dalam Proses Pengajuan ISBN

BELI BUKU

Kategori:

Deskripsi



SINOPSIS

AI sebetulnya berhalusinasi. AI seharusnya menjadi teknologi yang tidak boleh terlalu Anda percayai. Sam Altman, CEO OpenAI

Terkait AI, manusia kini berada dalam dilema: apakah AI akan menjadi alat yang membantu mengefektifkan pekerjaan mereka atau justru menjadi pengatur hidup mereka. Bukankah banyak manusia yang kini hidupnya diatur oleh algoritma. Ketika likes dan comment menunjukkan ketertarikan kepada satu sisi hidupnya, manusia terus-menerus menyajikan sisinya yang itu, bahkan mencoba untuk tampil sempurna. Yang paling menyedihkan adalah banyak orang yang kehilangan dirinya sendiri, justru saat dunia begitu sibuk “melihat.”

Nah, menyimak beberapa kejadian, peringatan Sam Altman di atas mungkin dianggap tidak berarti. Pada Februari 2025, dunia dihebohkan oleh Sewell Setzer III yang bunuh diri setelah mendapat saran dari AI. Lalu di Amerika Serikat sebuah survei menyatakan 8 dari 10 responden bersedia menikah dengan pasangan AI-nya. Lantas PM Swedia Ulf Kristersson memercayai AI untuk memberikan “pendapat kedua”. Bahkan, pada September 2025, PM Albania Edi Rama “mengangkat” AI sebagai salah satu menterinya.

Maka, rasanya, tidaklah sederhana menemukan jawaban atas pertanyaan di awal tulisan ini. Buku ini dihadirkan bukan untuk menjawab pertanyaan itu secara instan, melainkan untuk menemani siapa pun menemukan jawabannya secara mandiri.

Dengan keberanian. Dengan rasa. Dengan kasih.

Kadang hidup terasa seperti notifikasi Error 404: arah tak menentu, tujuan tak bertemu. Mungkin bukan karena kita gagal, melainkan karena algoritma hidup kita terlalu lama diatur pihak lain.

Padahal, kode aslinya ada di hati kita.

Melalui buku Error 404: Human Not Found ini, penulis ingin menghadirkan ruang. Ruang untuk bernapas. Ruang untuk bertanya, tanpa takut ditertawakan. Ruang untuk menyadari bahwa manusia tidak harus sempurna untuk tetap berarti. Penulis percaya bahwa teknologi, termasuk AI, bukan untuk membuat manusia menjadi mesin yang cepat, melainkan untuk membantu menjadi manusia yang utuh. Kita tidak sedang menolak AI, tetapi juga tidak berserah padanya. Yang kita cari adalah jalan tengah, tempat nurani dan algoritma bisa berdampingan. Buku ini ingin membantu Gen Z dan Milenial Indonesia menyambut AI dengan lebih bijaksana, yaitu sebagai alat untuk berkembang, bukan justru membuat hilang arah. Di masa depan, kita butuh lebih banyak manusia yang canggih, bukan manusia yang dapat digantikan oleh mesin.

 
TANGGAPAN
Di era penuh algoritma, kita perlu kembali menjadi manusia seutuhnya. Buku ini mengajak kita kembali ke jati diri—menemukan makna, kehadiran, dan keotentikan di dunia maya. Bacaan wajib untuk siapa pun yang ingin tetap utuh dan relevan di era teknologi.
Maya Arvini–Director of Microsoft Indonesia, Executive Coach, dan penulis buku Career First

This book got me hooked from the beginning. Dalam dunia yang serba bising, justru hati kecil bisa terasa asing. Karena kita tak lagi terkoneksi dengan diri, melainkan terus bergerak mencari validasi.Jika manusia tidak bisa menjadi utuh dan stay true, lantas, apa yang membuat kita bisa merayakan keunikan jiwa ini?

Astrid dan Tuhu dalam buku ini secara ugal-ugalan memaparkan realita sekaligus menampar saya dengan cinta. Tulisan ini seperti genggaman hangat sahabat, yang terus ada dan memberi pengingat bahwa kita ini adalah manusia-manusia yang diciptakan begitu hebat.Kata demi kata yang dilantun adalah tanda bahwa masih ada sesama manusia yang peduli dan terus mengingatkan kita untuk kembali pada diri yang unik dan otentik.

Dalam segala ingar bingar dan kecanggihan teknologi, satu-satunya yang tidak akan bisa digantikan akal imitasi atau artificial intelligence (AI) sampai kapan pun adalah menjadi manusia.
Bunga Mega–Penulis dan Penggiat Komunitas Perempuan

Seperti manusia, tapi tetap bukan manusia, itulah AI. Buku ini muncul pada saat yang tepat! Buku karya sahabat saya Astrid Hendra dan rekannya Tuhu Nugraha ini mungkin bisa menjawab euforia dan kegembiraan orang terhadap hadirnya AI sekaligus kekhawatiran terbesar akibat pengaruh AI yang  akan menggantikan manusia. Apakah ini benar? Isi buku ini menarik sekali! Karena lewat buku yang dibuat sederhana, ringkas, dan tentunya tak lupa kekinian ini, kita diajak untuk olah pikir,  “Sebenarnya AI itu apa? Berasal dari mana?” Jangan pernah lupa, secanggih apapun, AI tetap buatan manusia.

Buat saya buku ini asyik. Astrid dan Tuhu mengajak kita untuk menyadari betul pentingnya AI yang membantu pekerjaan kita dan memperingan semua yang kita lakukan, tetapi sekaligus mengajak kita untuk menyadari betul bahwa ada sesuatu yang lebih-lebih-lebih tinggi daripada AI itu. Apa itu? Dapatkan bukunya, baca, diskusikan dengan penulisnya atau dengan orang-orang terdekat kalian.
Alvin Adam– Public Speaking Coach, Entrepreneur, dan Pemanfaat AI

Membaca Error404: Human Not Found rasanya seperti bercermin—kadang menampar, kadang menghangatkan. Di tengah derasnya notifikasi dan kecanggihan AI, buku ini mengingatkan saya bahwa ada hal yang jauh lebih penting dari sekadar algoritma, yaitu menjadi manusia seutuhnya. Cara Astrid Hendra dan Tuhu Nugraha menulis tidak menggurui, tetapi justru menemani, seolah ada sahabat yang duduk di samping kita sambil berkata, “Hei, kamu nggak sendirian.” Buku ini bukan sekadar bacaan, melainkan ruang jeda—tempat saya bisa bernapas, berpikir ulang, dan kembali menemukan diri di era yang serba cepat.
Agung Setiyo Wibowo–Pendiri LinkedIn Hacks Academy, Penulis 100+ Buku Best-Seller

Di era ketika algoritma berlari lebih cepat dari detak kita, buku ini berbisik pelan:
AI hanyalah alat, bukan pengganti manusia. Ia seperti cermin—memantulkan siapa kita, seterang atau segelap apa hati kita.

Krisis terbesar bukanlah teknologi, melainkan kita sendiri yang makin jarang benar-benar hadir. Kita mudah larut dalam notifikasi dan pencitraan, padahal yang paling kita rindukan adalah tatap mata, jeda, dan pelukan nyata.

Buku ini mengajak kita kembali: mengingat bahwa empati, cinta, dan keberanian untuk jadi diri sendiri adalah kekuatan yang tak tergantikan. Pesannya sederhana—berhentilah sibuk upgrade mesin, jangan lupa upgrade diri. Karena manusia yang benar-benar “canggih” bukan yang paling update tren, tapi yang berani hidup dengan hati di tengah dunia digital.
Hana Asyathri (khaas)Founder Ruang Hening