Kisah Sebutir Telur

Rp77.000

Perjalanan Reflektif Adjie Subing dari Lampu Petromax Terbanggi ke Gemerlapan Cahaya Paris

Penulis: Adjie Subing & Laura Ariesta
Penyunting: Adjie Subing & Laura Ariesta
Ilustrator sampul dan isi: Akbar Apriyanto
Desainer sampul dan penata letak: Akbar Apriyanto
Ketebalan buku: 190 halaman hitam putih
Ukuran buku: 13 x 20 cm
Harga buku: Rp77.000
Cetakan pertama: Februari 2026
ISBN: Dalam Proses Pengajuan ISBN

Deskripsi

Ini adalah sebuah buku tentang kisah perjuangan hidup seorang anak kampung dari Terbanggi Besar, Lampung Tengah, bernama Adjie Subing. Terlahir dari sebuah keluarga sederhana, perjalanan hidup mendidiknya untuk memiliki mimpi yang tidak sederhana, mimpi yang besar, mimpi yang membuatnya bekerja teramat keras untuk meraihnya. Dari seorang anak kampung yang masa kecilnya banyak dihabiskan di warung sederhana milik orangtuanya demi membantu perekonomian keluarga, Adjie terbang dengan mimpi besarnya hingga dia bisa berkuliah di Paris, menemukan profesi yang sesuai dengan panggilan jiwanya, dan menjadi pengusaha di beberapa bidang usaha. Meskipun demikian, sebetulnya, buku ini tidak disusun untuk menjadi monumen kesuksesan seorang Adjie Subing. Buku ini disusun untuk bisa menjadi sebuah ruang kontemplasi bagi siapa pun yang membacanya. Buku ini semacam perantara bagi Adjie Subing untuk duduk bersama pembaca lalu membicarakan tentang proses, kegagalan, dan keajaiban yang sering kali tersembunyi di balik kesulitan.

Alur kisah di buku ini tidak linier karena hidup Adjie pun tidak pernah berjalan dalam garis lurus yang rapi. Bagi Adjie, hidup adalah kumpulan momen yang saling bertautan, ketika masa lalu sering kali memberikan jawaban bagi masa depan, dan masa depan sering kali menjadi pembenar atas rasa sakit di masa lalu. Buku ini adalah sebuah biografi reflektif. Artinya, setiap kisah yang dibagikan di dalamnya bukan hanya tentang apa yang terjadi pada Adjie, tetapi tentang hikmah apa yang dia petik dan bagaimana setiap kejadian tersebut membentuk caranya memandang dunia serta kebaikan Tuhan.

Dengan demikian, buku ini bisa menjadi teman perjalanan bagi yang membacanya, yang mungkin saat ini sedang merasa buntu atau sedang ragu pada mimpi-mimpinya sendiri. Buku ini mengajak siapa pun untuk mengerti bahwa setiap kesulitan adalah bentuk "pemantasan diri" yang Tuhan berikan agar kita layak menerima tanggung jawab yang lebih besar kelak. Maka, jangan terburu-buru dalam membaca setiap kisahnya. Di situ ada ajakan untuk melakukan refleksi, bertanya pada diri sendiri, dan menemukan makna di balik setiap peristiwa yang dialami saat ini.